LIMBOTO, Newsline.Id— Sebanyak 1.800 perangkat desa di Kabupaten Gorontalo didorong menjadi bagian dari penguatan perlindungan sosial masyarakat melalui peran sebagai Agen Perlindungan Sosial (Perlinsos).
Langkah tersebut mengemuka dalam Apel Akbar Jajaran Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Tingkat Kabupaten Gorontalo, Senin (5/10/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Gorontalo Haris Suparto Tome mengatakan, apel tersebut diikuti sekitar 1.800 perangkat desa mulai dari sekretaris desa hingga kepala dusun.
Selain itu, kegiatan diikuti 1.200 anggota BPD, 191 kepala desa, 77 pendamping desa, 99 pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), serta unsur Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) dan Tagana.
Haris mengatakan, konsolidasi tersebut menjadi momentum menyatukan langkah seluruh jajaran sosial dan pemberdayaan masyarakat desa.
“Sekarang kita satu. Maka gerakannya harus satu, barisannya satu, dan komandonya satu,” kata Haris.
Menurut Haris, perangkat desa memiliki posisi strategis dalam memastikan data sosial masyarakat terus diperbarui.
Mereka akan didorong membantu masyarakat melakukan pemutakhiran data secara mandiri maupun melalui pendampingan.
Langkah tersebut diharapkan membantu pemerintah memastikan data penerima manfaat lebih akurat sekaligus mengurangi persoalan akibat ketidaksesuaian data sosial.
“Seluruh perangkat desa ini diwajibkan menjadi Agen Perlinsos agar dapat membantu pemutakhiran data,” ujarnya.
Haris mengatakan, pemutakhiran data menjadi penting karena pemerintah membutuhkan basis data yang akurat untuk memastikan program perlindungan sosial tepat sasaran.
Selain penguatan data sosial, apel tersebut menjadi bagian dari Gerakan Nasional Peduli Tetangga.
Haris mengatakan gerakan tersebut diarahkan untuk membangun kembali kepedulian masyarakat terhadap kondisi sosial di lingkungan terdekat.
Gerakan itu sejalan dengan posisi perangkat desa yang setiap hari berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Sebelumnya, Bupati Gorontalo Sofyan Puhi juga meminta gerakan tersebut dimulai dari lingkungan terdekat.
Menurut Sofyan, persoalan sosial tidak selalu harus dilihat dari lingkup yang luas. Kepedulian dapat dimulai dengan memastikan kondisi tetangga di sekitar.
“Apakah tetangga kita malam ini tidur dengan perut kenyang atau lapar? Itu saja dulu,” kata Sofyan.
Haris berharap gerakan tersebut tidak berhenti sebagai slogan, tetapi menjadi kebiasaan sosial yang tumbuh dari aparatur pemerintah hingga masyarakat.
“Seluruhnya bisa mengelaborasi visi dan misi itu menjadi gerakan bersama, menjadi langkah dan derap kita bersama untuk menghadirkan desa yang berdaya dan masyarakatnya yang sejahtera,” ujarnya.










