LIMBOTO,newsline.id — Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo mencatat sekitar 15 hingga 20 pasien Tuberkulosis Resistan Obat (TBC RO) atau TBC kebal obat dari sekitar 300 pasien TBC yang saat ini aktif menjalani pengobatan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena TBC RO memerlukan penanganan yang lebih kompleks dibanding TBC biasa.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Ismail T. Akase, mengatakan penyebab utama TBC kebal obat bukan hanya faktor medis, tetapi juga ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan yang harus berlangsung selama enam hingga sembilan bulan tanpa terputus.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Pengobatan yang terhenti di tengah jalan dapat menyebabkan kuman menjadi kebal terhadap obat sehingga pasien harus menjalani terapi dengan regimen yang berbeda di bawah pengawasan dokter spesialis paru,” ujarnya, Rabu (29/7).
Menurut Ismail, TBC masih menjadi penyakit yang mudah menular, terutama di lingkungan rumah dengan ventilasi yang kurang baik. Karena itu, masyarakat yang mengalami batuk berkepanjangan disarankan segera memeriksakan diri ke puskesmas untuk menjalani pemeriksaan dahak maupun rontgen bila diperlukan.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak lagi memberi stigma kepada penderita TBC. Menurutnya, rasa takut dikucilkan sering membuat pasien enggan berobat hingga akhirnya menghentikan pengobatan.
“Jangan ada lagi diskriminasi terhadap penderita TBC. Mereka harus mendapat dukungan keluarga, masyarakat, pemerintah desa, hingga tenaga kesehatan agar pengobatan dapat diselesaikan sampai tuntas,” katanya.
Dinas Kesehatan menegaskan keberhasilan pengendalian TBC tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Dukungan keluarga sebagai pengawas minum obat dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah munculnya kasus TBC kebal obat.










