GORONTALO, Newsline.Id— Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo terus memperkuat pelayanan kesehatan bagi lanjut usia (lansia) melalui penerapan Perawatan Jangka Panjang (PJP) yang terintegrasi dengan Integrasi Layanan Primer (ILP). Upaya ini diarahkan untuk menjaga kualitas hidup lansia, mempertahankan kemandirian, serta memastikan warga lanjut usia memperoleh perawatan sesuai kebutuhan dan kondisi kesehatannya.
Kepala Bidang Kesehatan Primer dan Komunitas (Kesprimkom) Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo, Rahmad B. Sutojo, SKM, menjelaskan bahwa pelaksanaan PJP dilakukan secara bertahap, mulai dari skrining kesehatan, penilaian tingkat kemandirian, penyusunan rencana perawatan, hingga pemantauan dan rujukan medis.
Menurut Rahmad, tahapan awal dilakukan melalui skrining oleh petugas Posyandu Siklus Hidup bersama kader kesehatan untuk menilai kemampuan lansia dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Penilaian menggunakan instrumen Activity of Daily Living (ADL), Indeks Barthel, serta Pengkajian Paripurna Pasien Geriatri (P3G) sederhana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hasil penilaian tersebut menjadi dasar untuk menentukan bentuk pelayanan yang dibutuhkan. Lansia yang masih mandiri atau mengalami ketergantungan ringan mendapatkan pelayanan promotif dan preventif di posyandu maupun puskesmas. Sementara lansia dengan tingkat ketergantungan sedang, berat, hingga total menjadi sasaran pelayanan PJP yang lebih intensif.
“Pelayanan perawatan jangka panjang harus disesuaikan dengan kondisi dan tingkat ketergantungan lansia. Karena itu, skrining dan penilaian awal menjadi penting agar setiap lansia memperoleh pendampingan dan perawatan yang tepat,” jelas Rahmad.
Ia menambahkan, bagi lansia dengan ketergantungan berat atau total, tim PJP puskesmas menyusun rencana asuhan dan melakukan kunjungan rumah (home care) secara berkala. Pemantauan juga melibatkan keluarga dan kader kesehatan untuk memastikan kondisi lansia tetap terpantau serta memperoleh penanganan apabila terjadi perubahan kesehatan.
Dari total 23 puskesmas di Kabupaten Gorontalo, saat ini dua puskesmas telah menjadi percontohan (piloting) dengan menetapkan Surat Keputusan (SK) Tim PJP Lansia.
Dinas Kesehatan menargetkan pembentukan tim tersebut dapat diperluas ke seluruh puskesmas sehingga pelayanan perawatan jangka panjang dapat berjalan lebih terstruktur, terkoordinasi, dan berkesinambungan.
Dalam pelaksanaannya, tim puskesmas juga melakukan evaluasi berkala serta mengupayakan rujukan ke rumah sakit apabila lansia mengalami kondisi klinis yang membutuhkan penanganan lebih lanjut atau kegawatdaruratan.
Rahmad mengakui, pelaksanaan PJP masih menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan tenaga kesehatan, pembagian waktu antara pelayanan di puskesmas dan kunjungan rumah, kondisi geografis, serta beban emosional keluarga dalam merawat lansia dengan penyakit kronis menjadi beberapa kendala yang perlu mendapat perhatian.
Selain itu, anggapan bahwa penurunan fungsi fisik pada lansia merupakan bagian biasa dari proses penuaan juga dapat menghambat deteksi dini terhadap masalah kesehatan yang sebenarnya membutuhkan penanganan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Dinas Kesehatan kabupaten Gorontalo mendorong pembentukan tim PJP lintas profesi di puskesmas, integrasi kunjungan rumah bersama kader ILP, serta pemetaan lansia yang mengalami keterbatasan mobilitas, termasuk mereka yang terbaring di tempat tidur (bedridden).
Pengaturan jadwal kunjungan rumah berbasis klaster juga dioptimalkan agar pelayanan lebih efektif, dengan dukungan pembiayaan melalui Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) puskesmas sesuai ketentuan yang berlaku.
Di luar pelayanan tenaga kesehatan, keluarga atau informal caregiver memiliki peran penting dalam perawatan sehari-hari lansia. Keluarga bersama kader kesehatan menjadi mitra utama dalam memantau kondisi, membantu pemenuhan kebutuhan dasar, serta memastikan lansia mendapatkan perhatian yang memadai.
Untuk meningkatkan kemampuan keluarga sekaligus mencegah kejenuhan dalam merawat lansia, Bidang Kesprimkom menyiapkan modul pendampingan yang mencakup perawatan luka tekan atau dekubitus, pengelolaan nutrisi, konseling kesehatan mental, serta pembentukan kelompok dukungan (support group) di tingkat desa.
Pendampingan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga, sekaligus membantu mereka menghadapi beban fisik maupun emosional selama memberikan perawatan jangka panjang.
Melalui penguatan integrasi layanan primer, Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo menargetkan seluruh 23 puskesmas memiliki SK Tim PJP Lansia. Program ini juga diarahkan untuk meminimalkan komplikasi penyakit kronis, mempertahankan kemampuan fungsional dan kemandirian lansia, serta mendukung pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan bagi penduduk berusia 60 tahun ke atas.
Dengan keterlibatan puskesmas, kader, dan keluarga, pelayanan perawatan jangka panjang diharapkan tidak hanya berfokus pada penanganan penyakit, tetapi juga memastikan lansia tetap mendapatkan perawatan yang layak, bermartabat, dan berkesinambungan di lingkungan tempat tinggalnya.










