GORONTALO, newsline.id — Pernyataan Juru Bicara Gubernur Gorontalo baru-baru ini menuai sorotan dari kalangan mahasiswa. Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Gorontalo (HPMIG) Cabang Bandung, Akbar Van Gobel, menilai pernyataan tersebut menunjukkan ketidakpekaan terhadap suara akar rumput, khususnya mahasiswa perantauan asal Gorontalo.
Akbar menegaskan, juru bicara gubernur seharusnya berperan sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, bukan sekadar menyampaikan narasi sepihak. Menurutnya, mahasiswa sebagai agen perubahan memiliki peran penting yang tidak boleh diabaikan dalam proses pembangunan daerah.
“Mahasiswa Gorontalo di berbagai daerah, termasuk di Bandung, adalah bagian dari masyarakat yang punya hak untuk bersuara. Jangan sampai pemerintah menutup ruang dialog dengan kami. Jubir gubernur sebaiknya jangan asal bicara tanpa memahami dinamika di lapangan,” tegas Akbar dalam keterangannya, Rabu (27/8).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia menilai hingga kini belum ada inisiatif terbuka dari Pemerintah Provinsi Gorontalo untuk menjalin komunikasi rutin dengan cabang-cabang HPMIG di luar daerah. Padahal, kata Akbar, organisasi tersebut telah lama menjadi wadah aspirasi pelajar dan mahasiswa Gorontalo.
“Kritik ini bukan sekadar spontanitas, melainkan cerminan kegelisahan kolektif mahasiswa Gorontalo. Kami berharap pemerintah tidak alergi terhadap kritik, karena justru dari sanalah muncul solusi untuk kemajuan daerah,” tambahnya.
Akbar mendorong agar juru bicara gubernur dan Pemprov Gorontalo membuka ruang dialog yang lebih inklusif dan empatik dengan mahasiswa. Menurutnya, komunikasi dua arah akan menjadi bentuk nyata keterlibatan generasi muda dalam pembangunan.
“Jika komunikasi terus satu arah, jurang ketidakpercayaan antara mahasiswa dan pemerintah daerah akan semakin lebar. Maka, mari kita mulai dengan dialog terbuka, bukan hanya formalitas, tetapi komitmen bersama demi Gorontalo yang lebih baik,” pungkasnya. (*)










