KOIN STUNTING DAN SEMANGAT PEMERINTAH MILIK MASYARAKAT DALAM PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING

Friday, 25 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh: Abdurahman Nango

Stunting masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Berbagai program pemerintah telah dilaksanakan, mulai dari intervensi gizi, peningkatan layanan kesehatan, penyediaan sanitasi, hingga edukasi keluarga. Namun demikian, keberhasilan percepatan penurunan stunting tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan pemerintah semata. Dibutuhkan keterlibatan aktif masyarakat sebagai bagian dari solusi. Dalam konteks inilah Program Koin Stunting menjadi menarik untuk dikaji sebagai sebuah inovasi sosial yang sejalan dengan prinsip Entrepreneurial Government, khususnya konsep Community-Owned Government atau Pemerintahan Milik Masyarakat.

ADVERTISEMENT

website

SCROLL TO RESUME CONTENT

David Osborne dan Ted Gaebler dalam konsep Reinventing Government mengemukakan bahwa pemerintah yang efektif bukanlah pemerintah yang bekerja sendiri, melainkan pemerintah yang mampu memberdayakan masyarakat untuk ikut menyelesaikan persoalan publik. Pemerintah tidak cukup hanya melayani, tetapi harus mampu membangun kesadaran, partisipasi, dan kemandirian masyarakat. Prinsip ini dikenal dengan istilah Empowering Rather Than Serving atau memberdayakan daripada melayani.

Jika dicermati, Program Koin Stunting merupakan refleksi nyata dari prinsip tersebut. Program ini tidak hanya bertujuan mengumpulkan donasi dalam bentuk koin atau sumbangan sukarela, tetapi lebih dari itu, membangun gerakan sosial yang melibatkan masyarakat dalam upaya percepatan penurunan stunting. Melalui program ini, masyarakat diajak untuk berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing demi membantu keluarga berisiko stunting. Nilai yang dibangun bukan semata-mata nilai ekonomi, melainkan nilai kepedulian, gotong royong, dan tanggung jawab sosial.

Dalam banyak program pembangunan, masyarakat sering kali ditempatkan sebagai penerima manfaat. Mereka menunggu bantuan, menerima program, dan menjadi objek kebijakan. Program Koin Stunting menawarkan pendekatan yang berbeda. Masyarakat tidak lagi diposisikan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek yang berperan aktif dalam menentukan keberhasilan program. Setiap koin yang disumbangkan menjadi simbol keterlibatan masyarakat dalam menjaga kualitas generasi masa depan.

Menurut pandangan penulis, kekuatan terbesar Program Koin Stunting bukan terletak pada jumlah dana yang berhasil dikumpulkan, melainkan pada kemampuannya membangun rasa memiliki (sense of ownership) terhadap program penurunan stunting. Ketika masyarakat merasa memiliki sebuah program, maka partisipasi akan tumbuh secara alami. Mereka tidak lagi melihat stunting sebagai urusan pemerintah atau tenaga kesehatan semata, tetapi sebagai masalah bersama yang harus diselesaikan secara kolektif.

Program ini juga menunjukkan bahwa inovasi publik tidak selalu identik dengan teknologi canggih atau anggaran besar. Inovasi dapat lahir dari kemampuan menggerakkan potensi sosial yang ada di masyarakat. Koin yang nilainya kecil ketika dikumpulkan secara individu dapat berubah menjadi kekuatan besar ketika dikelola secara bersama-sama. Inilah esensi dari pemerintahan wirausaha, yaitu kemampuan menciptakan nilai publik melalui kreativitas, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Di Kabupaten Gorontalo, Program Koin Stunting berpotensi menjadi model pembangunan berbasis partisipasi masyarakat yang mampu memperkuat sinergi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, dan keluarga. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula peluang keberhasilan percepatan penurunan stunting. Program ini tidak hanya menghasilkan bantuan bagi keluarga berisiko stunting, tetapi juga menumbuhkan budaya gotong royong yang menjadi modal sosial penting dalam pembangunan daerah.

Selain itu, Program Koin Stunting dapat menjadi sarana pendidikan sosial bagi masyarakat. Program ini mengajarkan bahwa setiap orang memiliki kontribusi dalam pembangunan, sekecil apa pun bentuknya. Kesadaran semacam ini sangat penting dalam menciptakan masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sosialnya.

Ke depan, keberhasilan Program Koin Stunting sangat bergantung pada transparansi, akuntabilitas, dan konsistensi pelaksanaannya. Masyarakat harus mengetahui bagaimana dana dihimpun, dikelola, dan dimanfaatkan untuk mendukung keluarga berisiko stunting. Kepercayaan publik menjadi modal utama agar partisipasi masyarakat dapat terus tumbuh dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, Program Koin Stunting memberikan pelajaran berharga bahwa percepatan penurunan stunting bukan hanya persoalan anggaran dan program pemerintah, tetapi juga persoalan bagaimana membangun gerakan sosial yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Ketika masyarakat diberdayakan, diberikan ruang untuk berpartisipasi, dan diajak menjadi bagian dari solusi, maka upaya penurunan stunting akan memiliki fondasi yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Melalui Program Koin Stunting, prinsip Pemerintahan Milik Masyarakat: Memberdayakan daripada Melayani menemukan bentuk nyatanya. Pemerintah hadir bukan sebagai satu-satunya pelaksana pembangunan, melainkan sebagai penggerak yang mampu membangkitkan energi kolektif masyarakat untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting. Inilah wajah pembangunan yang sesungguhnya: pembangunan yang lahir dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masa depan masyarakat.

Berita Terkait

Ketika Ayah Tidak Hadir: Mengapa Negara Harus Peduli?
Jangan Jadi Pejabat Jika Thomas – Mikson Anti Kritik, Pers Bukan Humas DPRD
Jika Fungsi Pengawasan Dinilai Gagal, Semua Unsur DPRD Harus Bertanggung Jawab
Tantangan Pemerintahan Daerah: Korupsi, Konflik, dan Persatuan Bangsa
Peran Elite Dalam Politik Lokal
Strategi Mengantisipasi Pelarian Tersangka Korupsi ke Luar Negeri
Meluruskan Tafsir Regulasi: Trotoar sebagai Hak Mobilitas Publik, Bukan Area Komersial
Politik Tutuhia: Ketika Kawan Menjadi Lawan

Berita Terkait

Friday, 25 September 2026 - 16:56 WITA

Ketika Ayah Tidak Hadir: Mengapa Negara Harus Peduli?

Friday, 25 September 2026 - 15:57 WITA

KOIN STUNTING DAN SEMANGAT PEMERINTAH MILIK MASYARAKAT DALAM PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING

Thursday, 16 July 2026 - 23:43 WITA

Jangan Jadi Pejabat Jika Thomas – Mikson Anti Kritik, Pers Bukan Humas DPRD

Tuesday, 7 July 2026 - 11:46 WITA

Jika Fungsi Pengawasan Dinilai Gagal, Semua Unsur DPRD Harus Bertanggung Jawab

Wednesday, 20 May 2026 - 23:02 WITA

Tantangan Pemerintahan Daerah: Korupsi, Konflik, dan Persatuan Bangsa

Berita Terbaru

Kab. Gorontalo

Bupati Sofyan: Inovasi Daerah Jadi Pendorong Peningkatan Kinerja OPD

Thursday, 1 Oct 2026 - 15:04 WITA