GORONTALO, Newsline.id– Pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta dari berbagai daerah. Salah satunya datang dari Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Nagan Raya, Aceh, Marzuki.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Marzuki, PENAS bukan sekadar ajang pertemuan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, tetapi juga menjadi ruang belajar, bertukar pengalaman, serta menyerap berbagai inovasi di bidang pertanian yang dapat diterapkan di daerah masing-masing.
“Melalui PENAS kami memperoleh banyak pengetahuan baru, terutama mengenai pengelolaan limbah sawah yang mampu meningkatkan produktivitas pertanian dengan metode-metode yang lebih modern. Ilmu yang kami peroleh di Gorontalo akan kami kembangkan di Kabupaten Nagan Raya,” ujarnya.
Ia memberikan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan PENAS XVII yang dinilainya berlangsung sukses berkat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, panitia, hingga masyarakat Gorontalo yang memberikan pelayanan dan sambutan hangat kepada seluruh tamu dari berbagai daerah.
Sebagai bentuk masukan untuk penyelenggaraan kegiatan serupa di masa mendatang, Marzuki menilai masih ada beberapa titik di area pameran yang sesekali belum didampingi petugas. Menurutnya, kehadiran petugas di setiap stan sangat penting agar pengunjung dapat memperoleh penjelasan secara langsung mengenai teknologi dan inovasi yang dipamerkan.
“Jika setiap titik pameran didampingi petugas, maka pengunjung akan lebih mudah memperoleh informasi dan ilmu yang nantinya bisa diterapkan di daerah masing-masing. Ini hanya masukan untuk penyempurnaan ke depan,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa secara keseluruhan penyelenggaraan PENAS XVII di Gorontalo berlangsung sukses dan memberikan manfaat besar bagi seluruh peserta.
Marzuki juga mengaku terkesan dengan kemiripan budaya antara Aceh dan Gorontalo. Menurutnya, kedua daerah memiliki banyak kesamaan, baik dari sisi adat istiadat, kuliner, maupun kehidupan masyarakat yang sangat kental dengan nilai-nilai Islam.
“Aceh dikenal sebagai Serambi Mekkah, sementara Gorontalo dijuluki Serambi Madinah. Kami merasakan nilai-nilai itu benar-benar hidup di tengah masyarakat. Budaya, adat, kuliner, hingga keramahan masyarakatnya terasa sangat dekat dengan Aceh. Ini menjadi jembatan yang semakin mempererat persaudaraan antara kedua daerah,” ungkapnya.
Ia berharap semangat kebersamaan yang terbangun selama PENAS XVII dapat menjadi awal penguatan kerja sama antardaerah dalam pengembangan sektor pertanian, peternakan, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian, sehingga manfaat PENAS terus dirasakan jauh setelah kegiatan berakhir.










