Gorontalo, Newsline.id– Ketua HKTI Provinsi Gorontalo, Prof. Nelson Pomalingo, mengingatkan masyarakat agar tidak memandang Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 sebagai agenda seremonial semata. Menurutnya, kesempatan menjadi tuan rumah kegiatan nasional sebesar PENAS merupakan momentum langka yang bisa datang ratusan tahun sekali.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Prof. Nelson menjelaskan, PENAS merupakan agenda nasional yang diselenggarakan setiap empat tahun. Jika pelaksanaannya digilir berdasarkan jumlah provinsi di Indonesia yang saat ini mencapai 38 provinsi, maka sebuah daerah berpotensi menunggu sekitar 152 tahun untuk kembali memperoleh kesempatan yang sama.
“Karena itu, PENAS jangan dianggap sebagai kegiatan biasa. Ini momentum bersejarah yang patut disyukuri oleh seluruh masyarakat Gorontalo,” ujar Prof. Nelson.
Mantan Bupati Gorontalo dua periode itu menilai, kepercayaan yang diberikan kepada Gorontalo sebagai tuan rumah PENAS XVII merupakan bukti bahwa daerah ini memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menyelenggarakan agenda berskala nasional.
Menurutnya, manfaat PENAS tidak hanya dirasakan selama kegiatan berlangsung, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang terhadap pembangunan daerah. Perputaran ekonomi meningkat, sektor usaha bergerak, promosi daerah semakin luas, serta membuka peluang investasi dan kerja sama di berbagai sektor.
“Jantung ekonomi bergerak, masyarakat merasakan manfaatnya, dan nama Gorontalo semakin dikenal di tingkat nasional. Ini adalah keuntungan besar yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” katanya.
Prof. Nelson yang juga Ketua Koalisi Pemerintah Penghasil Kelapa (KOPEK) dan pengurus HKTI Pusat Bidang Palma menilai Gorontalo memiliki pengalaman panjang dalam menyelenggarakan agenda besar. Pada masa kepemimpinan Gubernur Fadel Muhammad, Provinsi Gorontalo sukses menjadi tuan rumah Hari Keluarga Nasional (Harganas) dan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tingkat nasional.
Sementara saat memimpin Kabupaten Gorontalo, Nelson juga berhasil menggelar peringatan Hari Kelapa Sedunia yang menghadirkan delegasi dari sekitar 20 negara, menjadikan Kabupaten Gorontalo sebagai pusat perhatian komunitas perkelapaan dunia.
“Pengalaman-pengalaman itu menunjukkan bahwa Gorontalo mampu menjadi tuan rumah berbagai event besar, baik nasional maupun internasional,” ungkapnya.
Namun demikian, Prof. Nelson mengingatkan bahwa keberhasilan PENAS tidak boleh berhenti pada kemeriahan pelaksanaan semata. Ia berharap momentum tersebut menjadi titik awal lahirnya perubahan yang lebih besar bagi sektor pertanian, perikanan, dan perekonomian daerah.
Menurutnya, setidaknya ada tiga warisan penting yang harus ditinggalkan PENAS XVII, yakni transformasi teknologi, transformasi ekonomi, dan transformasi sumber daya manusia.
“Jangan sampai setelah PENAS selesai, semuanya ikut selesai. Harus ada tindak lanjut yang nyata agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang,” tegasnya.
Ia juga mendorong agar kawasan penyelenggaraan PENAS dikembangkan menjadi kawasan agrowisata dan pusat edukasi pertanian yang memiliki nilai sejarah bagi Gorontalo.
“PENAS XVII adalah bagian dari sejarah besar Gorontalo. Generasi mendatang harus mengetahui bahwa daerah ini pernah menjadi tuan rumah salah satu agenda nasional terbesar di Indonesia. Karena itu, warisan dan nilai manfaatnya harus terus dijaga,” pungkasnya.










