LIMBOTO, Newsline. Id– Berakhirnya Program Upland Agriculture and Livestock Development Project (UPLAND) tidak boleh menghentikan pengembangan pisang gapi di Kabupaten Gorontalo. Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, menegaskan pentingnya keberlanjutan budidaya, pemanfaatan infrastruktur pertanian, serta pengolahan hasil panen agar investasi program tersebut terus memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan petani.
Penegasan itu disampaikan Bupati Sofyan saat membuka Rapat Evaluasi Capaian Pelaksanaan Program UPLAND Kabupaten Gorontalo Tahun 2026 di Hotel Aston Gorontalo, Jumat (16/10/2026).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Program UPLAND yang dilaksanakan sejak 2021 tersebut telah mendukung pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Gorontalo dengan total anggaran sekitar Rp16 miliar. Program ini diarahkan untuk memperkuat produktivitas pertanian di kawasan dataran tinggi, termasuk pengembangan komoditas pisang gapi sebagai salah satu potensi unggulan daerah.
Bupati Sofyan menekankan, evaluasi program tidak sekadar mengukur capaian pelaksanaan, tetapi juga memastikan seluruh hasil investasi dapat dimanfaatkan secara optimal setelah program berakhir. Pembinaan petani, pendampingan penyuluh, serta keterlibatan pemerintah desa dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan produksi dan pengembangan komoditas tersebut.
“Evaluasi ini penting untuk memastikan keberlanjutan program. Potensi pasar pisang gapi sangat luas, baik untuk pemenuhan program gizi, pasokan industri, maupun bahan baku UMKM olahan pangan lokal yang kian berkembang,” ujar Bupati Sofyan.
Kepala Dinas Pertanian dan ketahanan pangan Kabupaten Gorontalo, Viktor Asiku, menjelaskan bahwa pengembangan pisang gapi melalui program UPLAND difokuskan pada tiga desa, yakni Desa Dulamayo Selatan di Kecamatan Telaga, Desa Toyidito di Kecamatan Pulubala, dan Desa Puncak di Kecamatan Telaga, dengan total luas lahan sekitar 80 hektare.
Pengembangan di tiga wilayah tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi peningkatan produksi sekaligus memperkuat posisi pisang gapi sebagai komoditas pertanian yang memiliki prospek ekonomi bagi masyarakat.
Menurut Viktor, keberlanjutan program perlu diarahkan pada perluasan pengembangan ke desa-desa lain, terutama kawasan dataran tinggi yang memiliki potensi pertanian serupa. Dengan demikian, manfaat program tidak berhenti pada wilayah yang telah menjadi lokus, tetapi dapat berkembang lebih luas sesuai potensi daerah.
Selain menjaga produktivitas, penguatan hilirisasi menjadi salah satu aspek penting yang perlu mendapat perhatian. Pisang gapi diharapkan tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk turunan, seperti keripik dan olahan pangan lainnya, sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Peluang pasar yang tersedia, mulai dari kebutuhan pangan, pasokan industri hingga pengembangan UMKM, perlu diimbangi dengan pengelolaan produksi, kepastian pemasaran, keterpaduan rantai pasok, serta kemitraan yang berkelanjutan antara petani dan pelaku usaha.
Karena itu, infrastruktur pertanian, peralatan pengolahan, dan berbagai fasilitas yang telah dibangun melalui program UPLAND harus terus dirawat dan dimanfaatkan secara produktif. Sinergi pemerintah daerah, penyuluh pertanian, fasilitator, pemerintah desa, akademisi, serta kelompok tani menjadi faktor penting untuk memastikan keberlanjutan program.
Rapat evaluasi tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Gorontalo, Sekretaris Daerah, jajaran organisasi perangkat daerah, pemerintah desa pengampu program, penyuluh pertanian, fasilitator, serta akademisi dan pakar pertanian.
Melalui evaluasi ini, Pemerintah Kabupaten Gorontalo berharap pengembangan pisang gapi dapat terus berjalan setelah program UPLAND berakhir, sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah hasil pertanian, memperluas peluang usaha, dan memperkuat kesejahteraan petani secara berkelanjutan.










