Newsline, Gorontalo – Kota Gorontalo yang dilintasi tiga sungai besar yaitu Sungai Bone, Sungai Bulango, dan Sungai Tamalate sering rutin dilanda banjir dan genangan air, terutama di kelurahan rawan seperti Ipilo, Bugis, Pilolodaa, dan Tenda, menyebabkan kerusakan bangunan, kematian ternak, serta gangguan kesehatan masyarakat yang parah.
Banjir tidak hanya menghancurkan infrastruktur fisik seperti rumah dan jalan, tapi juga memicu wabah penyakit berbasis air yang dominan, termasuk diare, muntaber, leptospirosis, serta gatal-gatal akibat sanitasi buruk dan air tercemar.
Hilangnya penghasilan menjadi pukulan telak bagi warga yang bergantung pada pertanian, perdagangan, dan nelayan, sementara 94 persen responden dalam kajian menyadari banjir sebagai bencana berulang tahunan, meskipun 36 persen masih kurang memahami akar penyebabnya yang memperlemah respons cepat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Potensi banjir tinggi berasal dari faktor hidrologis kota yang berada di wilayah Khatulistiwa rawan hidrometeorologi, ditambah luapan tiga sungai utama akibat curah hujan ekstrem.
Aktivitas antropogenik memperburuk situasi melalui pembuangan sampah sembarangan yang menyumbat aliran sungai, konversi bantaran sungai menjadi permukiman ilegal, serta minimnya inisiatif masyarakat dalam pembersihan saluran air, selaras dengan data BNPB yang mencatat 1.518 kejadian banjir terbanyak di Indonesia sepanjang 2020.
Kajian mengusulkan pendekatan non-struktural yang mengandalkan partisipasi aktif masyarakat, seperti larangan ketat membuang sampah ke sungai untuk cegah penyumbatan, penanaman serta pemeliharaan pohon di sekitar bantaran dan halaman rumah guna tingkatkan infiltrasi air hujan, serta pembersihan rutin saluran air dari lumpur dan vegetasi.
Upaya tambahan mencakup penghentian penebangan liar di hutan hulu untuk kurangi limpasan permukaan, mencerminkan adaptasi fisik dan non-fisik berbasis persepsi warga yang memilih bertahan di zona rawan banjir.
Kolaborasi pemerintah daerah dengan masyarakat menjadi kunci utama, melalui peningkatan kapasitas adaptasi via pelatihan reguler, penyebaran informasi kebencanaan secara transparan lewat sosialisasi dan media lokal, serta penguatan kesiapsiagaan berbasis kearifan lokal seperti gotong royong membersihkan sungai yang sudah menjadi tradisi turun-temurun.
Strategi ini lahir dari analisis persepsi masyarakat terhadap bencana di wilayah kemaritiman, menjadikan kesadaran kolektif sebagai fondasi ketahanan berkelanjutan yang mengurangi risiko dampak berulang










