Kab.Gorontalo.Newsline.id – Tekanan harga kebutuhan pokok di Kabupaten Gorontalo semakin terasa. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gorontalo mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Juni 2026 mencapai 5,86 persen, tertinggi sejak awal tahun.
Kepala BPS Kabupaten Gorontalo, Dr. Suparno, mengatakan angka tersebut melampaui inflasi tertinggi sebelumnya yang terjadi pada Februari 2026 sebesar 5,81 persen. Dengan capaian itu, Juni menjadi bulan dengan tekanan inflasi paling tinggi sepanjang tahun berjalan.
“Selama setahun terakhir Kabupaten Gorontalo terus mengalami inflasi secara year-on-year. Untuk tahun 2026, inflasi tertinggi terjadi pada bulan Juni,” ujar Dr. Suparno saat menyampaikan rilis resmi perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kantor BPS Kabupaten Gorontalo, Rabu (1/7).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lonjakan inflasi terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 10,38 persen dengan andil mencapai 4,41 persen terhadap inflasi umum. Kelompok ini menjadi penyumbang terbesar kenaikan harga di Kabupaten Gorontalo.
Selain itu, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya mengalami inflasi sebesar 6,55 persen dengan andil 0,09 persen, sedangkan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mencatat inflasi 5,73 persen dengan andil 0,39 persen. Sementara itu, kelompok pakaian dan alas kaki justru mengalami deflasi sebesar 2,53 persen, menjadi satu-satunya kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan harga secara tahunan.
Secara bulanan (month-to-month/m-to-m), inflasi Juni 2026 terhadap Mei 2026 tercatat 2,57 persen. Angka ini menunjukkan kenaikan harga yang cukup tajam hanya dalam kurun satu bulan.
BPS mencatat lima komoditas yang menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan, yakni cabai rawit dengan andil 0,52 persen, disusul tomat (0,37 persen), ikan selar/ikan tude (0,34 persen), bawang merah (0,28 persen), dan beras (0,27 persen).
Kenaikan harga komoditas pangan tersebut menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi selama Juni.
Di sisi lain, beberapa komoditas mengalami penurunan harga sehingga sedikit menahan laju inflasi, antara lain ikan mujair (andil -0,06 persen), daging ayam ras (-0,05 persen), ikan asap (-0,05 persen), serta popok bayi sekali pakai dan telur ayam ras yang masing-masing memberikan andil -0,04 persen.
Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) atau periode Desember 2025 hingga Juni 2026 tercatat sebesar 4,19 persen. Sepanjang periode tersebut, kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 7,31 persen dan andil 3,15 persen.
Berdasarkan komoditas, tomat menjadi penyumbang inflasi terbesar secara kumulatif dengan andil 1,50 persen, diikuti cabai rawit (0,38 persen), beras (0,26 persen), ikan layang/ikan benggol (0,19 persen), serta tarif air minum PAM (0,16 persen).
Tingginya inflasi yang didominasi kenaikan harga bahan pangan menjadi tantangan bagi Pemerintah Kabupaten Gorontalo bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Upaya menjaga stabilitas pasokan, memperlancar distribusi, serta memastikan ketersediaan komoditas strategis seperti cabai rawit, tomat, bawang merah, dan beras menjadi langkah penting untuk menahan laju inflasi sekaligus menjaga daya beli masyarakat pada bulan-bulan mendatang.










